Jakarta – Industri perfilman Indonesia masih potensial untuk terus berkembang. Berdasarkan data yang dihimpun hingga 31 Desember 2025, jumlah penonton film Indonesia menembus angka 80,27 juta penonton, naik tipis dari capaian 2024 yang tercatat 80,21 juta penonton.

Menurut Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon, capaian itu merupakan bukti nyata bahwa film nasional telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan berdaya saing.

“Meskipun bedanya cuma tipis-tipis saja, yaitu 80,27 juta, (sekitar 60 ribu) dari yang tahun lalu, paling tidak, film Indonesia sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” katanya dalam Taklimat Media Refleksi 2025, Kebijakan 2026, Kamis, 8 Januari 2026.

Ia menyatakan sekitar 67─70 persen film yang diputar di bioskop tahun lalu adalah film Indonesia. Bahkan pada 2025, rekor penonton film terbanyak kembali dipecahkan lewat film Agak Laen 2 dengan 10,5 juta penonton, melampaui rekor film pertamanya. Begitu pula dengan film Jumbo yang menjadi film animasi lokal dengan penonton terbanyak.

“Jadi, semakin banyak yang produksi, mudah-mudahan semakin terjaga ekosistem film. Orang (Indonesia) ternyata masih nonton ke bioskop karena saya tahu di banyak negara, semakin sedikit oorang yang datang ke bioskop, lebih banyak menunggu dari OTT,” sambung Menbud.

Pemerintah, kata dia, akan berupaya menjaga eksosistem tersebut karena sangat penting bagi ekonomi budaya Indonesia. “Pemerintah akan memastikan ekosistem ke bioskop itu akan terus berlangsung,” sambungnya.

Dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, sepanjang 2025, sebanyak 201 judul film Indonesia resmi beredar di bioskop. Diversitas konten menjadi salah satu pendorong pertumbuhan industri, dengan genre horor mendominasi sebanyak 90 judul, disusul 66 judul drama, serta genre lainnya seperti komedi, laga, dan religi.

Data Produksi Film Dalam Negeri 2025

Selama periode Januari─Desember 2025, Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan (Ditjen PPPK) menerbitkan sebanyak 2.732 Tanda Pemberitahuan Pembuatan Film (TPPF), 54 persen di antaranya merupakan TPPF film, yang mencakup film pendek, film panjang, film serial, dan bentuk produksi lainnya. Angka itu menunjukkan tingginya aktivitas produksi serta keberlanjutan kreativitas insan perfilman nasional.

Sepanjang tahun lalu, tercatat sebanyak 41.092 film dan iklan dinyatakan lulus sensor. Dari jumlah tersebut, sekitar 64,4 persen merupakan karya nasional, sementara 35,6 persen lainnya merupakan produksi impor.

Berdasarkan penggolongan usia penonton, film dan iklan yang lulus sensor terbagi ke dalamklasifikasi Semua Umur (SU) sebanyak 11.930, klasifikasi 13+ sebanyak 19.859, klasifikasi 17+ sebanyak 8.982, serta klasifikasi 21+ sebanyak 321. Data ini mencatat komposisi produksi nasional serta impor yang melalui proses sensor sebagai bagian dari mekanisme pengaturan peredaran film dan iklan di Indonesia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *