KOTA SINEMA — Pengembangan talenta menjadi fondasi penting dalam upaya Jakarta membangun ekosistem kota sinema. Dalam diskusi publik “Sosialisasi Jakarta Kota Sinema” di Jakarta pada Jumat, 19 Desember 2025, para narasumber menegaskan bahwa kesiapan sumber daya manusia, khususnya aktor muda, menentukan keberlanjutan industri film nasional.

Aktris Asmara Abigail menilai proses menyiapkan generasi penerus perfilman perlu dilakukan melalui program inkubasi yang konsisten. Menurut dia, workshop menjadi salah satu instrumen utama untuk membekali aktor muda, seperti yang telah dilakukan melalui Jakarta Film Week yang terintegrasi dengan Pemerintah Provinsi Jakarta. Program semacam ini, kata Asmara, memberi ruang belajar sekaligus memperluas jejaring bagi para talenta baru.

Asmara juga menekankan perlunya penguatan workshop akting sebagai pelengkap Film Lab yang selama ini lebih berfokus pada produksi, penulisan skenario, dan penyutradaraan.

Ia berkaca pada pengalamannya mengikuti Berlinale Talents, di mana selama satu pekan workshop akting ia belajar intensif bersama aktor lain dengan pendampingan mentor.

“Kami sangat belajar banyak dan juga punya mentor acting,” ujarnya. Karena itu, Asmara mendorong Pemprov bekerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara agar para sineas di kawasan ini dapat saling belajar dan menjalin hubungan jangka panjang.

Selain pelatihan, akses terhadap film juga menjadi bagian penting dari pembentukan talenta. Asmara mengenang pengalamannya semasa kuliah ketika rutin datang ke Kineforum untuk menonton film-film yang sulit diakses di bioskop, termasuk film-film festival. Dari sana, ia belajar banyak tentang ragam pendekatan sinema. Menurut dia, akses terhadap arsip film dan film lama sangat penting karena aktor perlu memahami sejarah dan identitas perfilman. “Untuk menjadi aktor yang baik kita juga harus mengerti sejarah kita, identitas kita,” katanya.

Tantangan berikutnya muncul setelah proses belajar dilalui. Aktor Dennis Adhiswara menyoroti fase transisi dari pelatihan menuju dunia kerja. Ia menyebut banyak aktor muda masih harus mencari-cari pekerjaan setelah belajar. Karena itu, menurut Dennis, diperlukan mekanisme untuk mempertemukan talenta baru dengan peluang kerja di industri film. “Bagaimana me-matchmake para talenta-talenta baru ini terhadap pekerjaan-pekerjaan di film lainnya,” ujarnya.

Dennis juga menilai pentingnya merancang sumber pemasukan alternatif di luar proyek film agar aktor muda tetap dapat bertahan. Ia menyebut perlunya desain bersama untuk menciptakan peluang yang dapat menopang kehidupan aktor ketika proyek film belum tersedia secara berkelanjutan.

Sedangkan aktor Ajil Ditto menyoroti bahwa para talenta muda tidak boleh cepat puas mengembangkan diri. Menjaga konsistensi dan profesionalisme justru menjadi kunci agar aktor bisa bertahan lama di industri.

Ia mengingatkan bahwa popularitas atau viralitas tidak boleh membuat aktor abai terhadap sikap dan etika kerja. “Bagaiimana cara kita jaga attitude kita supaya enggak gampang ninggi sama orang,” ujarnya.

Ajil menyoroti hal-hal mendasar yang kerap diabaikan, seperti datang tepat waktu, menghargai proses kerja, hingga menjaga interaksi dengan lawan main di lokasi syuting. Ia menilai profesionalisme bukan hanya soal kemampuan akting, tetapi juga soal sikap dalam bekerja.

Menurut dia, keberlanjutan karier aktor sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga citra yang baik. “Bagaimana caranya kita bertahan di dunia aktor di dunia film dengan citra yang baik dan tidak menimbulkan omongan yang jelek,” ucap pemain di film Toba Dream ini. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *