KOTA SINEMA — Di tengah upaya Jakarta menuju status Kota Sinema, ada satu ruang yang senyap namun penting dalam ekosistemnya, yaitu Sinematek Indonesia. Di sinilah jejak sejarah perfilman nasional disimpan, dirawat, dan dihidupkan kembali.
Siang itu, Harry Hariawan, aktivis komunitas film, berada di lantai empat Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Jakarta Selatan. “Mau ketemu Kepala Sinematek yang baru sekalian silaturahmi,” tulisnya lewat pesan singkat kepada Tempo pada Senin, 20 Oktober 2025.
Harry sudah akrab dengan lembaga arsip film itu. Ia kerap meminjam materi film untuk pemutaran komunitas di Taman Menteng, membaca majalah lama di perpustakaan, atau sekadar berbincang dengan para pegawai Sinematek.
Lain lagi dengan Daniel Irawan, kolektor film asal Medan, menjadi langganan Sinematek sejak lama. “Terutama dulu ya, jauh sebelum zaman internet makin kencang seperti sekarang,” tukasnya.
Uniknya, dokter spesialis ini juga melakukan pertukaran koleksi film dengan pihak Sinematek. “Biasanya ada koleksi Sinematek yang sudah didigitalisasi, tapi belum direstorasi ya, barter dengan koleksi yang aku punya. “
Nyatanya Sinematek bukan sekadar tempat menyimpan materi film lawas. Tercatat ada lebih dari 2.750 film seluloid, dan ribuan film lain dalam format pita analog, pita magnetik, dan format digital. Biasanya lebih banyak film lokal, mulai dari film cerita, film dokumenter, juga film-film pendek.
Di sana juga ada printilan materi lainnya yang berkaitan dengan film, mulai dari poster, skenario dan dokumen perfilman seperti majalah, surat organisasi. Tersimpan pula peralatan syuting film yang memiliki nilai sejarah seperti proyektor, mesin editing, hingga lampu.
Didirikan pada 1975 oleh sineas Misbach Yusa Biran dan Asrul Sani, Sinematek merupakan tempat pengarsipan film pertama di kawasan Asia Tenggara dan satu-satunya di Indonesia. Melalui Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.34/HM.001/MKP/2008, Sinematek ditetapkan sebagai Objek Vital Nasional di Bidang Kebudayaan dan Pariwisata.
Sejak 1 Juli 2025, posisi Kepala Sinematek dipegang oleh Farry Hanief, anak kelima Misbach Yusa Biran. Langkah pertama Farry adalah membina generasi baru pengarsip film. ““Harus ada regenerasi khusus untuk yang mau peduli dengan pengarsipan film yang selama ini dikerjakan Sinematek,” katanya.
Caranya dengan menggelar nonton bareng secara regular yang rencananya akan digelar sebulan sekali. Melalui kegiatan itu, anak muda dapat melihat dan mempelajari koleksi Sinematek, pun menyadari pentingnya pengarsipan film. Langkah ini menjadi salah satu strategi Sinematek untuk berkomunikasi dengan generasi muda. “Karena Jakarta kan nantinya mau mengarah menjadi Cinema City, Kota Sinema,” kata Farry.
Kondisi Sinematek saat ini ibarat orang kehabisan napas. Jumlah pegawai terus menyusut karena anggaran terbatas. “Idealnya di basement itu ada enam orang, sekarang tinggal tiga,” ujar Farry. Proses regenerasi pun lambat karena butuh waktu bertahun-tahun untuk melatih staf baru.
Kendala lain adalah minimnya koleksi anyar. “Film terakhir yang kami terima sekitar tahun 2012,” ucap Farry. Padahal penyimpanan di Sinematek gratis dan lebih aman bagi produser. “Kalau disimpan di kantor, setahun juga bisa rusak.”
Penulis skenario Andri Cahyadi juga menyoroti persoalan itu. “Sangat ketinggalan dalam update film-film terbaru, bahkan OTT saat ini jadi arsip digital yang lebih lengkap,” katanya. Ia menilai Sinematek perlu mengikuti perkembangan teknologi dan memperbarui fasilitasnya agar pengunjung mendapat pengalaman menonton yang layak.
Farry berharap kolaborasi bisa terjalin dengan Pemerintah Provinsi Jakarta, terutama berkaitan dengan upaya mewujudkan kota sinema. “Mudah-mudahan Sinematek bisa dikenal lebih luas, terutama oleh warga Jakarta,” kata dia. (*)
Komentar