Jakarta Film diyakini bisa menjadi aset diplomasi yang memiliki nilai seni, kreativitas dan berperan dalam proses pembentukan citra sebuah bangsa. Bila dimanfaatkan secara maksimal, film dapat menjadi aset penting diplomasi dalam merangkul dunia.
Hal itu terungkap dalam diskusi pembekalan Direktorat Jenderal Indonesia dan Diplomasi Publik yang diikuti 110 pejabat diplomatik dan konsuler di Museum Konferensi Asia Afrika, Jalan Asia Afrika 65 Bandung, Kamis 14 September 2017.
Sekretaris Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Azis Nurwahyudi berpendapat, film merupakan jendela mempromosikan Indonesia ke luar negeri. Sayangnya, dia melihat belum semua perwakilan atau diplomat kita mengunakan film sebagai alat diplomasi.
“Oleh karena itu kita mengingatkan mereka bahwa film juga bagian dari diplomasi. Tidak hanya menayangkan, tetapi harapan kita mereka juga turut mempromosikan produksi film kita,” ujarnya.
Selain itu, Azis memandang geliat film produksi Tanah Air terus berkembang pesat. Seiring munculnya sinema berkualitas yang dibuat oleh para sineas Indonesia, film lokal juga mendapat apresiasi dari luar negeri.
Seperti film The Photograph garapan sutradara Nan T. Achnas yang berhasil memenangi dua penghargaan di The 43rd Karlovy Vary International Film Festival 2008. Atau film yang menunjukkan kerukunan beragama di Indonesia karya Raphael Wregas Bhanuteja berjudul Senyawa pada 2014 silam.
Karena itulah Azis berharap diskusi ini dapat membuka wawasan para diplomat muda Indonesia akan pentingnya keberadaan film sebagai salah satu aset terbaik diplomasi Indonesia.
Komentar