Jakarta – PT Produksi Film Negara (PFN) Persero, Badan Usaha Milik Negara yang memiliki sejarah panjang dalam industri perfilman Indonesia, mengambil langkah berani dan inovatif dengan merencanakan pembangunan bioskop negara pertama. Inisiatif ini, yang diberi nama Sinewara, bukan sekadar menambah jumlah layar di Indonesia, tetapi juga menjadi katalisator bagi pengembangan ekosistem perfilman yang lebih inklusif dan merata di seluruh pelosok negeri.

Direktur Utama PFN, Riefian Fajarsyah, yang lebih dikenal dengan nama Ifan Seventeen, mengungkapkan rencana ambisius ini dalam rapat dengan Komisi VII DPR RI pada tanggal 2 Februari 2026. Dalam kesempatan tersebut, Ifan menekankan bahwa Sinewara akan menjadi pilot project yang strategis bagi PFN untuk mendorong pertumbuhan jumlah bioskop di Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang selama ini kurang terjangkau oleh jaringan bioskop komersial.

“Alhamdulillah untuk ke depan Insyaallah, PFN akan mendirikan bioskop negara pertama yang bernama Sinewara,” ujar Ifan dengan penuh optimisme, seperti yang dikutip dari kanal YouTube TVR Parlemen, Selasa (17/2/2026). Pernyataan ini disambut dengan antusiasme dari para anggota dewan, yang melihat inisiatif PFN sebagai angin segar bagi industri perfilman nasional.

Lokasi yang dipilih untuk pembangunan Sinewara adalah kawasan kantor PFN di Jalan Otista Raya, Jatinegara, Jakarta Timur. Pemilihan lokasi ini memiliki makna simbolis, karena menandakan komitmen PFN untuk menjadikan kantor pusatnya sebagai pusat inovasi dan pengembangan perfilman. Meskipun Ifan belum memberikan tanggal pasti kapan pembangunan bioskop negara pertama ini akan dimulai, namun ia menegaskan bahwa PFN sedang bekerja keras untuk mewujudkan proyek ini secepat mungkin.

Lebih dari sekadar tempat pemutaran film, Sinewara diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan komunitas film, tempat diskusi, lokakarya, dan pemutaran film-film independen yang sulit mendapatkan tempat di bioskop-bioskop komersial. Dengan demikian, Sinewara tidak hanya berkontribusi pada peningkatan jumlah penonton film Indonesia, tetapi juga pada pengembangan kualitas dan keberagaman konten film yang diproduksi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *