Kami menyajikan perjalanan hidup Raam Punjabi yang banting setir memproduksi sinetron ketika perfilman Indonesia terpuruk.

Memoar Raam Punjabi

Setelah Bisnis Sinetron Raam Punjabi Hancur

Selamat pagi, Kawan Pal.

Kali ini saya akan bercerita tentang Raam Punjabi. Ah, kau sudah kenal dia rupanya. Benar, Raam Punjabi adalah tokoh perfilman yang berpengaruh yang berkibar sejak 1970-an. Kau tahu film Pandangan Pertama yang dibintangi penyanyi dangdut A. Rafiq pada 1978 yang meledak di pasar? Itulah buah tangan Raam Punjabi.

Meskipun demikian, Raam lebih dikenal sebagai Raja Sinetron. Rumah produksinya, Multivision Plus, telah menghasilkan tak kurang dari 485 judul sinetron yang diputar di berbagai stasiun televisi sejak 1992 hingga 2000-an.

Praktis sinetronnya mewarnai tontonan penduduk Indonesia. Banyak yang mengkritik bahwa isi sinetron itu kurang bermutu. Pada kenyataannya, Raam memang membuat tayangan hiburan. Ada pula yang memujinya karena sejak itu sinetron menjadi produksi lokal yang mengisi jam siar televisi dan mengurangi film seri produksi Hollywood, yang dulu merajai semua stasiun televisi, termasuk TVRI.

Kami menulis memoar Raam Punjabi ketika Raam sudah menginjak usia 81 tahun. Dia masih tampak gagah dan masih rajin menonton film di bioskop dan bahkan menghadiri festival-festival film di mancanegara.

Dalam suatu kesempatan kami menawarinya untuk diwawancara untuk rubrik Memoar. “Kalau kalian menganggap saya sudah pantas ditulis, maka saya bersedia,” katanya. Untuk Memoar, berarti dia harus menuturkan seluruh sejarah hidupnya. Tak semua orang bersedia melakukannya dan wawancara yang dilakukan juga memakan waktu panjang.

Kami pun mengatur pertemuan. Kami mewawancarai Raam dalam dua kali kesempatan pada Mei dan Juni 2025 di kantornya yang megah di Kuningan, Jakarta Selatan. Setiap pertemuan memakan waktu sekitar 4-5 jam, yang tentu saja berarti harus menggeser sejumlah agenda pentingnya sebagai Presiden Komisaris Multivision Plus.

Raam selalu menyambut kami dengan menyuguhkan teh India, ramuan teh yang mirip teh tarik Aceh. Banyak cerita dan komentarnya mengenai bisnis film dan sinetron serta kebijakan perfilman pemerintah dari era Orde Baru sampai sekarang.

Kawan Pal.

Kami menyajikan perjalanan hidup Raam pada edisi kali ini. Kau dapat membaca bagaimana seorang pemuda keturunan India di Surabaya itu memulai bisnisnya sebagai pedagang kutang impor di kawasan Menteng sebelum terjun sebagai importir film India.

Raam memang tertarik film sejak kecil. Setelah dewasa dia mulai menjajal peruntungannya dalam produksi film dengan membuat film layar lebar. Tiga film pertamanya tak laku meski melibatkan sutradara dan bintang besar. Dia tak menyerah dan kemudian membuat film Pandangan Pertama yang sukses besar.

Tentu saja kau juga akan membaca bagaimana Raam banting setir memproduksi sinetron ketika perfilman Indonesia terpuruk. Dia berjaya di bisnis sinetron ini. Tapi, ketika stasiun televisi kemudian membuat sinetron sendiri (in-house), usaha Multivision Plus benar-benar hancur.

Raam menuturkan bagaimana dia kemudian berusaha bangkit dan berfokus ke film layar lebar dan bioskop di daerah. Belakangan bahkan dia menghasilkan film-film yang lebih idealis, yang tak sepenuhnya menjual aspek hiburan, seperti Soekarno dan Gowok: Kamasutra Jawa.

Demikianlah, kawan Pal, perjalanan hidup Raam memang penuh warna. Dia melewati masa kejayaan dan keterpurukan berkali-kali dan melewati berbagai pemerintahan dengan berbagai kebijakan perfilman. Tak dimungkiri bahwa dia telah memberi warna dalam sejarah perfilman negeri ini.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *